27/04/12

Romo Handoyo Lukman, MSC - Master “Kumparan” dari Purworejo


Romo Handoyo Lukman, MSC 

Master “Kumparan” dari Purworejo

ROMO H. HANDOYO LUKMAN MSC


Nama kecil Romo adalah : Hendrikus Loogman, dan setelah menjadi WNI tahun 1981, mengganti namanya menjadi H. Handoyo Lukman MSC. 

Terlahir sebagai putra ke 10 dari 13 anak hasil perkimpoian Antonius Loogman dengan Digna Berkel. 

Romo ditahbiskan menjadi imam Katolik pada tanggal 1 September 1963 . 
Pada tahun 1965 bertugas di Purwokerto, 
tahun 1968 - 1972 bertugas di Pekalongan, 
1972 - 1974 bertugas di Tegal dan 
tahun 1974 sampai sekarang bertugas di Purworejo. 

Saat kecil Romo tumbuh di lingkungan pertanian dan peternakan sehingga tak heran kalau begitu mencintai kehidupan alam sebagaimana didikan orangtuanya.
 
Sejak dulu Romo sudah terbiasa memanfaatkan kekayaan alam dengan tanam-tanaman yang ada di sekitarnya untuk mengobati hewan, disamping mempergunakannya sebagai jamu untuk kesehatan.
 
Pengetahuan / pengalaman Romo, dibidang kesehatan / pengobatan semakin berkembang setelah beliau memperdalam ilmu bandul / Radiestesi, yang dipelajarinya di pulau Jawa, Indonesia.
 

Sejak tahun 1974 Romo menetap di Purworejo. Disamping kesibukan sebagai seorang Imam Katolik, Romopun menyempatkan diri memberikan pelayanan kesehatan. Dari waktu ke waktu pelayanan kesehatan ini semakin berkembang, yang akhirnya membawa Romo kepada satu kerjasama dengan dokter Medis. Para dokter ini telah memantau dan mengikuti sendiri praktek serta dampak atau hasil dari pengobatan Romo yang ternyata sangat bermanfaat. Kerjasama dengan pihak medis dilakuakan untuk mencapai tingkat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam menangani penderita. Sekaligus supaya pertentangan dan perbedaan persepsi ' dunia medis ' dan ' pengobatan alternatif ' diasimilasi saling isi mengisi dalam pengertian yang positif

Penggunaan pendulum biasanya untuk mendiagnosa suatu penyakit dan menemukan obat yang cocok dengan si penderita. Penggunaan pendulum ini sudah ada sejak jaman dahulu kala, zaman neolithikum dan zaman mesir kuno. Di Eropa sendiri penggunaan pendulum ini tidak diketahui sebelum tahun 1240 yang mana Robert Fludd menulis mengenai pendulum ini.
 

Dalam bahasa Prancis, penggunaan pendulum untuk medis disebut sebagai radiesthesia. Dua pendeta dari prancis Abbes Bouley dan Mermet dan radiestet lainnya Turenne, Lesourd, dan Bovis adalah yang pertama-tama memberikan perhatian yang besar terhadap penggunaan pendulum untuk kepentingan medis. Abbe Mermet menekankan pentingnya keahlian penggunaan pendulum ini dalam bukunya yang berjudul Principle and Practice of Radiesthesia yang berisi catatan dan cerita mengenai pengalamannya selama 40 tahun menggunakan pendulum. Buku ini menjadi buku klasik pada saat itu. Hal yang menarik dalam bukunya yaitu membuat metode interpretasi penilaian radiesthesia.
 

Penggunaan radiesthesia di bidang kesehatan semakin luas ( di Inggris disebut Psionic ) . Namun di sisi lain banyak pihak juga menganggap radhiestesi merupakan hal yang kontroversial dan sulit untuk dirasionalisasikan. Namun telah banyak fakta pula keberhasilan penggunaan radiesthesia ini dalam membantu mendiagnosa maupun mencari therapi/ obat yang cocok untuk suatu penyakit.

Dapat Sembuhkan Berbagai Penyakit dan Menyelesaikan Berbagai Masalah

Seorang ibu muda yang baru datang dari Kalimantan, tiba-tiba masuk dan langsung mengeluh. “Tolong Romo, anak saya sakit”, gumamnya dengan mata berkaca-kaca. Putrinya yang berumur 2 tahun hingga hari itu belum bisa bicara dan jalan. Menurut diagnosa dokter medis, otak kecilnya mengandung air, sehingga syaraf kaki dan alat bicaranya terganggu. Cairan itu tampak jelas difoto hasil rontgen. Hanya melontarkan beberapa pertanyaan, Romo Lukman, ahli pengobatan tradisional dengan teknik Medical Radiesthesi segera mendeteksi. Telapak tangannya dengan jari telunjuk dan tengah persis diarahkan ke bola mata si kecil. Ia mengirim getaran radiesthesi lewat kekuatan tenaga dalam. 

Tak lama, begitu Romo Lukman melepas tangannya, anak itu menangis dan memuntahkan seseuatu. “Tak apa-apa, itu karena dia kelebihan dosis,” gumamnya. Selanjutnya Romo Lukman memberi resep berupa ramuan jamu. 

Mengobati Penyakit Buatan 

Si kecil yang dibawa ibunya, hanya satu dari sekian pasien yang datang ke tempat praktek Romo Lukman di Purworejo. Pasien-pasiennya datang dari berbagai pelosok, bahkan dari luar negeri. Status sosial mereka juga tidak hanya dari kalangan tertentu saja. Ada yang kaya, miskin, berpendidikan, buta huruf, dsb. Keluhan mereka juga bermacam-macam, dari yang hanya keseleo sampai kanker otak. Bahkan ada pasien yang divonis tak bisa disembuhkan secara medis, datang ke tempat beliau dan sembuh.

Satu bukti, kata seorang pasien dari Kediri yang hari itu datang sebagai pasien, pamannya pernah sakit tumor paru-paru. Kata dokter tak bisa disembuhkan tanpa lewat operasi, tapi setelah dibawa ke Romo dan diberi jamu-jamuan, nyatanya sembuh. Bahkan sampai sekarang tak pernah kambuh.  “Faktor ini yang mendorong saya datang ke sini dan yakin akan sembuh. Apalagi orang2 yang datang ke sini rata2 juga pasien yang kata dokter harus dioperasi atau tidak bisa disembuhkan, tapi setelah ke sini tak jadi dioperasi dan bisa disembuhkan."

Contoh lain, keluarga Arief Budiyanto yang tinggal di Tangerang. Tadinya tak punya anak setelah sekian lama berumah tangga, akhirnya punya. Seorang anak keluarga Mugikaryono dari Yogyakarta yang lahir prematur dan lumpuh, akhirnya bisa jalan.

Bahkan dalam perjalanan praktek Romo Lukman, beliau bukan cuma menyembuhkan penyakit yang sulit disembuhkan secara medis, tapi juga penyakit perbuatan “black magic” macam santet. Romo Lukman dan anak buahnya bisa membuat penangkalnya. 

Banyak penyakit buatan manusia yang disembuhkan Romo Lukman. Akibatnya banyak pula pihak black magic tak suka Romo Lukman dan ruang prakteknya sering diserang. Untuk mengatasinya, Romo memasang alat2 penangkal berbagai macam bentuk. Ini supaya tempat praktek dan karyawannya tak ada yang sakit diserang penyakit ‘buatan’.

Masalah Duniawi 

Layar TV dan komputer yang memancarkan gelombang2 elektrostatis kuat, hingga mengganggu kesehatan mata, saraf, dll., dapat teratasi dengan memasang penangkal gelombang elektrostatis khusus. 

Rumah tinggal mungkin juga mendapat gangguan radiasi bumi atau radiasi frekuensi lain dari material bahan bangunan dan unsur2 lainnya. Juga sewaktu naik mobil, dalam kendaraan juga terdapat tekanan elektrostatis oleh getaran pemutar mesin atau pergesekan dengan udara. Ini sangat melelahkan sopir dan penumpang hingga resiko kecelakaan tinggi. Gangguan2 ini dapat dihalau dengan alat2 netralisator elektrostatis.

Kata Romo kelahiran Belanda 8 Januari 1937, mempercayai kekuatan penangkal2 itu bukan berarti menduakan kekuatan Tuhan. 

“Soalnya masalah santet, mistik atau yang lain2nya itu adalah masalah duniawi, harus dihadapi dengan cara2 duniawi pula.”
  Ibaratnya, bila jantung sedang diancam pistol, ya harus dihadapi dengan benda dunia, seperti baju anti peluru misalnya. Begitu pula menghadapi santet, harus mempersiapkan penangkalnya. 

“Jadi bila ada orang bawa benda penangkal santet misalnya, itu bukan berarti musrik. Itu sama artinya seperti pasukan anti teroris pakai baju anti peluru. Kalau tak pakai anti peluru, apakah ia harus maju ke depan menyongsong peluru yang akan ditembakkan lawan ?”

Dulu, awalnya orang memandang sinis terhadap pengobatan lewat Medical Radiesthesi. Meski begitu, Romo Lukman tetap jalan. Dia yakin melangkah di jalan yang benar. Yang bikin semangatnya tak luluh, di belakangnya banyak dokter yang mendukung. 

“Saya sendiri senantiasa memperjuangkannya dengan memberi pengertian positif kepada setiap orang.” Umumnya di kalangan intelektual, medical radiesthesi dianggap negatif. Pandangan negatif bisa terjadi karena di antara pelaku pengobatan tradisional, ada yang memakai medium (yang agak) aneh. Kalau orang tak memahaminya akan dipandang negatif. Orang tak menyadari bahwa medium orang yang melakukan pengobatan tradisional memang berbeda. 

Seperti di Jawa Timur misalnya, ada dukun yang pakai medium pengobatan dengan potong kambing segala, dan Romo Lukman tak berani mengatakan orang itu ngawur. Itu karena Romo mengerti.
”Saya bisa menerimanya, sebab saya sendiri pernah mengalaminya, waktu proses pengobatan dilakukan, yang mati kambingnya, manusianya hidup.”

Medical Radiesthesi Versus Dukun

Dibanding praktek perdukunan, teknik medical radiesthesi berbeda. Medical radiesthesi tidak memakai sesajen dan mantera2; mediumnya adalah pendulum dan obatnya menggunakan jamu-jamuan. Dukun pakai “obat2an” seperti potong ayam putih tujuh ekor. Dukun juga lebih banyak pakai sarana untuk konsentrasi. Medical radiesthesi tidak. 

“Asal bisa sebut sakitnya di bagian mana, kita bisa langsung mendiagnosa dan mendeteksi penyakitnya. Dukun membutuhkan konsentrasi lebih tinggi dengan cara meditasi dan sarana macam gelas berisi air putih. Itu bedanya, kami lebih efisien.” Perbedaan itu, kata Romo karena pandangan dan leluhur berbeda. 

Bakat Paranormal

Romo Lukman menurut pengakuannya bisa mendalami medical radiesthesi karena punya bakat, leluhurnya juga memiliki gejala kepekaan terhadap dunia halus. Ia lahir dari keturunan yang punya kepekaan begitu. Saat ia berusia 6 tahun ayahnya sering pamit untuk pergi ke rumah nenek. Romo tak tahu ayahnya pergi ke sana untuk apa. Baru belakang ia tahu bahwa ayahnya ke sana untuk belajar paranormal. Belum lama ini, Romo yang sudah jadi WNI pergi ke Belanda dan baru tahu dari kakaknya bahwa neneknya punya kemampuan paranormal; dan Romo langsung menyadari “sedikit” ketularan ilmu itu. 

Tahun 1972 Romo mengembangkan kemampuan paranormalnya di Tegal. Ilmu ini cepat berkembang karena daya dukung lingkungannya memberi peluang bagus. Mulanya ia kerap diminta bantuan penduduk untuk mencari sumber air lewat medical radiesthesi. Suatu hari, di Tegal ada kenalan yang bilang bahwa bakat Romo Lukman tinggi sekali. Menurut temannya itu, Rm. Cahyo yang kini tinggal di Semarang, sebetulnya memberitahu bakat kepekaan seseorang harus memiliki kebijaksanaan. Soalnya, bisa salah, orang yang diberitahu itu bila mempelajarinya lebih jauh bisa sedikit edan karena sarafnya tak kuat mempelajarinya. Resikonya banyak. Jadi, sebelum memberitahu, lihat2 dulu, apakah ia stabil fisik-mentalnya dan berbakat atau tidak. 

Pengobatan Jarak Jauh

Teknik medical radiesthesi memang memiliki keunikan, mampu mengobati pasien dari jarak jauh. Caranya, pasien mengirimkan biodata pribadi dan keluhan penyakitnya dilengkapi dengan foto. 

Pengobatan Medical Radiesthesi

Pengobatan dengan radiesthesi sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu. Tapi kebanyakan orang telah melupakannya karena pengaruh perkembangan zaman dan penemuan2 teknologi kedokteran. Radiesthesi adalah kemampuan manusia mendeteksi dan mengukur radiasi yang dipancarkan oleh mineral, logam, tumbuh2an, hewan atau manusia dengan alat pendulum. Atau manusia dengan kemampuan radiesthesi menerima gelombang2 dari benda yang ada di luar dirinya. Sebab, menurut teorinya, tiap2 benda atau makhluk di dunia memancarkan gelombang elektromagnet. 

Menurut asal katanya, radiesthesi berasal dari kata radius (getaran) dan aisthesi (kepekaan). Jadi, radiesthesi berarti merasakan getaran2 gelombang elektromagnet negatif atau positif dari seseorang atau benda. 

Cara kerja medical radiesthesi mula2 semua organ pasien dideteksi. Bila diantara organ itu daya pancar gelombangnya kurang dari skala yang ditentukan, berarti bagian itu sakit. Kelebihannya, ia dapat mendeteksi penyakit yang secara medis sulit ditemukan lokasi dan penyebabnya. Bila orang sakit kulit, misalnya, secara medis yang dilihat hanya kulitnya saja. Tapi secara medical radiesthesi, memiliki kemungkinan menemukan latar belakang penyakit kulit itu. Menurut pengalaman, mungkin saja yang diobati bukan kulitnya dulu, tapi livernya atau ginjalnya dulu. Sering terjadi, bila sakit kulit dan diberi salep atau obat alergi, sembuhnya hanya sementara. Nanti kambuh lagi. Tapi setelah diobati livernya, penyakitnya jadi tuntas.

Di sisi lain, dengan sakit dan gejala yang sama, boleh jadi obatnya berbeda buat Polan atau Susi. Buat Polan mungkin cocok dengan antalgin, misalnya, buat Susi tidak. Faktor ini dimungkinkan karena kelemahan si Polah barangkali di liver sedangkan si Susi di paru2.

Memang, pengobatan lewat medical radiesthesi tak selalu seratus persen tokcer. Ada juga yang meleset karena konsentrasi pengobat terganggu, akibatnya apa yang dideteksi meleset. Satu lagi, sembuh tidaknya penyakit seseorang masih dipengaruhi satu faktor lagi: faktor Tuhan. Semuanya tetap kembali kepada-NYA. Manusia berusaha, Tuhan jua yang menentukan hasil akhirnya.

Kehadirannya selalu ditunggu-tunggu banyak orang. Seperti saat berlangsungnya Pekan Wira Budaya di Taman Mini Indonesia Indah tanggal 22 sampai 27 Oktober lalu. Walaupun jam praktik pengobatan alternatif yang diselenggarakan di Sasana Adi Rasa baru dimulai pukul 09.00, tetap saja mereka sudah menunggu kedatangan Romo Lukman dan para muridnya satu jam sebelumnya. 

Sebagai pengobat alternatif (orang kerap menyebut Romo sebagai paranormal, meskipun profesi/jabatan resmi Romo adalah sebagai pastor) penampilannya sangat santai, sama sekali jauh dari kesan “angker”. Pakaian praktik yang digunakan pun sederhana. Warnanya bukan hitam bukan pula putih, melainkan hijau tua bercorak bunga2 segar. Mungkin ini menandakan bahwa ia seorang pribadi yang dinamis, terbuka, dan menyukai kedamaian.

Saat si pasien mulai mengeluhkan sakitnya, Romo memperhatikan serius dengan tatapan mata yang hangat. Di mejanya hanya ada kertas dan bolpoin. Dengan bolpoin itulah ia mendeteksi penyakit pasiennya. Walau sosoknya tetap seorang Londo (orang Belanda, red.), namun cara bicaranya lebih mirip orang Jawa. Maklum, sudah 35 tahun Romo ditugaskan sebagai misionaris gereja di beberapa tempat di Jawa Tengah, seperti Purwokerto, Pekalongan, Tegal, Kebumen, serta Purworejo.
 

Melacak penyakit hingga pesawat

Bukan hanya orang yang dalam kondisi sakit saja yang mendatangi Romo Lukman ke Purworejo maupun ke Bogor. Ada kalanya kasus yang disodorkan kepadanya cukup menantang, yaitu mencari lokasi pesawat yang hilang, atau mencari jenazah pendaki gunung yang tersesat. Romo Lukman tidak pergi ke lokasi, melainkan hanya memandangi peta. “Pekerjaan seperti ini bisa menghabiskan waktu 2-3 jam, dan amat melelahkan karena menguras energi yang sangat banyak,” ungkapnya. Semisal, waktu pesawat jatuh di Toli-Toli tempo hari, bangkai pesawat ditemukan hanya selisih 200 meter dari pengamatannya.
 

Kali lain, Romo mendapat tugas untuk melacak sebuah pesawat yang hilang dalam penerbangan dari Sentani ke Jayapura. 
“Ketika itu saya mengatakan bahwa jumlah penumpang lima orang, sementara menurut catatan petugas bandara empat orang. Ternyata pengamatan saya tepat, karena sebelum pesawat mengudara, di landasan pacu naik seorang lagi dan orang itu yang kemudian diketahui sebagai pembajak,” jelasnya.
 

Lalu bagaimana mengganti energi Romo yang hilang ? Romo tertawa sejenak. “Saya biasanya melindungi diri dengan alat2 magnetis. Ada yang saya taruh di badan, seperti kalung emas yang saya pakai ini yang bandulannya merupakan kumparan. Satu lagi saya taruh di kantong. Selebihnya saya istirahat tidur. Ini benar2 urusan alam, tidak ada yang aneh-aneh,” tuturnya.

Radiesthesi medic

Dalam mendiagnosa pasien, Romo menerapkan sistem radiesthesi, yaitu kepekaan untuk menangkap pancaran radiasi yang dipancarkan oleh mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, dan lingkungan.
 

Sarana utamanya adalah indera keenam (extra sensory perception) dan alat bantu yang digunakan adalah alat2 dowsing seperti tongkat peka, bolpoin, serta pendulum.

Tubuh manusia sebenarnya merupakan semacam stasiun pemancar yang memancarkan sinyal2 radiasi energi berfrekuensi tinggi dari tiap sel, jaringan, dan organ tubuh. “Interaksi antara muatan molekul elektrostatis itu dalam tubuh, barang, obat, dll., dan muatan kita sebagai pelaku radiesthesi akan memberi suatu reaksi pada saraf sensoris kita, yang melalui saraf motoris akan menghasilkan vibrasi dan kontraksi pada otot kita, sehingga bolpoin/pendulum yang kita pegang bergerak,” kata Romo. 
Dari gerakan pendulum kemudian bisa diketahui bagian tubuh pasien, sifat penyakit; fisik atau psikis, “Dari situ kemudian dicari jalur penanganannya bagaimana,” katanya.

Mengobati secara holistic

Dalam mengobati pasien, Romo tidak berhenti sampai pemeriksaan fisik si pasien saja, tetapi juga meneliti hal2 di sekelilingnya. Misal, bagaimana keadaan rumahnya. “Jika saya temukan bahwa rumah pasien sangat negatif, saya pelajari juga denah rumahnya. Rumahnya saya netralkan. Kemudian saya tentukan magnet jenis apa yang cocok utnuk ditaruh di rumahnya itu.” Menurutnya, gangguan yang terjadi di rumah, tidak selalu berasal dari makhluk halus, tetapi bisa juga dari struktur tanah, atau letak rumah yang kurang baik. Dan, itu membawa efek kepada penghuni rumah.

Kalau begitu holistik ? “Ya. Secara de facto saya sudah menjalankan pengobatan secara holisti. Feeling saya, kita harus menangani orang seutuh-utuhnya, ya dalam lingkungannya, ya dalam kepercayaannya. Otomatis saya merasakan itu menjadi suatu keperluan. Sistem kami memang merasakan banyak sekali hal yang tidak logis tetapi bisa dilacak sampai dapat,” katanya.
 

Walaupun banyak pasien yang minta diobati, namun Romo tidak memonopoli pengobatan di tangannya. “Jika ternyata melalui sistem tersebut menunjukkan bahwa si pasien membutuhkan penanganan khusus, seperti tusuk jarum atau bantuan medis, saya akan langsung mengarahkan ia untuk berobat kepada ahlinya,” tambah Romo yang mempelajari magnetis radiesthesi ini secara otodidak itu. 

Ia menceritakan kejadian tahun 1981 di Purworejo. Seorang wanita berusia 40 tahun datang kepadanya minta diobati karena seluruh tubuhnya dirasa sakit. “Sudah saya beri jamu, tidak sembuh. Saya kasih alat netralisator (kumparan, red.), tidak mempan. Lalu saya pindah ke tingkat psikologis. 

“Lama2 saya tahu ternyata penyakitnya adalah mendendam. Lalu saya menanyakan bagaimana hubungannya dengan sang ibu. Ketika itu ia menjawab baik. Dia bilang ibunya sudah wafat. Apakah kamu mengantar jenazahnya ke pemakaman ? Kali ini dia menggeleng. Ketemu masalahnya, ternyata penyakitnya ada di dalam hatinya sendiri,” lanjut Romo yang pernah memperdalam pengolhanan spiritual selama 1 tahun di kota Berg en Dal, Belanda. Ia lalu menyuruh perempuan itu ke mesjid, mengambil wudlu, shalat sambil minta ampun kepada Tuhan. 
“Seminggu kemudian, ia datang kepada saya seperti menjadi orang yang baru. Jadi, saya sudah menjalankan pengobatan secara holistik, hanya pada masa itu, istilah itu belum populer.” 

‘Terdampar’ di Purworejo

Hendrikus Loogman MSC (singkatan Misionarius Sacratissimi Cordis Yesu, Misionaris Hati Kudus), setelah mendapat kewarganegaraan Indonesia di tahun 1981, dengan kesadaran sendiri mengubah namanya menjadi Handoyo Lukman MSC. Sampai sekarang ia masih aktif sebagai Pastor pembantu di Gereja Katolik Santa Maria Purworejo. 

Kedatangannya ke Indonesia tahun 1965 merupakan bagian dari tugasnya sebagai misionaris gereja. Sebagai seorang imam gereja, Romo Lukman sering ditugaskan ke desa-desa. Dengan pembawaannya yang ‘hangat’ itu ia mudah bersosialisasi dengan masyarakat kelas bawah. Apalagi dengan kelebihannya dapat mengobati orang, semakin banyak saja yang ingin ditangani langsung olehnya. Melihat bakatnya di bidang pengobatan, di samping melaksanakan tugas2 gereja, oleh atasannya ia juga diberi tugas khusus sebagai pengobat dan membuka tabir guna2. “Tetapi saya tidak mengkhususkan diri di bidang itu. Jika ada pasien yag bisa saya tolong, akan saya bantu. Yang penting tujuannya positif.”

Pernah ‘kecolongan’

Romo pernah ‘kecolongan’, sehingga harus berbaring di RS dan ‘pasrah’ menghadapi pisau bedah. Ia menertawai dirinya sendiri ketika Nirmala menanyakan kiat sehatnya.  
“Haha... kalau saja saya lebih mempedulikan kesehatan saya, mungkin tidak akan separah ini. Sering dalam tugas saya harus tergesa-gesa karena terlalu banyak orang yang menunggu untuk segera ditangani. Akibatnya kesehatan saya menurun.” 

Alasannya apalagi kalau bukan karena kecapaian mengurus pasien sehingga waktu istirahatnya berkurang. Mungkin juga karena terlalu banyak memprana orang .. banyak pasien belum mau pergi kalau belum diprana olehnya. Menurut pengalaman ahli jantung yang menanganinya, orang yang sering memprana orang jantungnya mudah bengkak. Akibat penyakitnya ia terpaksa membatasi diri dalam menerima pasien dan membagi ‘jatah’ dengan para asistennya. 

Setelah mendirikan Yayasan Sosial Pengobatan Alternatif di tahun 1999 dan meresmikan Rumah Pengobatan Alternatif Romo H. Lukman MSC di Jl. Jend. Sudirman no. 9, Purworejo, kini Romo bersiap-siap bergabung dengan para pengobat alternatif di RS holistik di Ganjuran atas kerja sama pihak RS Panti Rapih.

Sumber:  Majalah Nirmala no. 12/II/Desember 2000 - Kaskus
http://birrusadhu2.blogspot.com/2012/02/romo-handoyo-lukman-msc-master-kumparan.html

Posted via email from ahmadie thaha

26/04/12

Website FPKS Di-hack

Kebetulan sedang mampir ke website Fraksi PKS (http://www.fpks.or.id), lha kok sedang kena hack. Setidaknya hingga saat ini pkl 14.35, website itu masih tetap berwarna hijau kehitaman, dengan tulisan di tengah plus gambar tengkorak. Lagu "Tanah Air Beta" mengalun di balik layar. Hacker-nya Mr Hubbi mengaku pemula, dan minta dihubungi via e-mailnya. Entahlah, apa rekan-rekan FPKS di DPR ngeh dengan urusan begini.

Pesan hacker sederhana:

im sorry mr.admin..
Kami hanya memperingatkan bahwa System Web Anda sangat Lemah !
Contact Me: crash.burn@dr.com
SEE MORE -> S.D.T <-- see here

Ini pengakuan dia juga:

single Attacker from indonesia
im here just testing your security system
your security system not secure 
we are form is not for evil. 
but we are here just to tell you 
That security system your website is 0.0000% 
we are just people who never considered a real. 
crime occurred because of an error from your security system 
patch your system now, or our will be go back in time 1x48 hours 
thanks....... 
~ _

Posted via email from ahmadie thaha

Terjemahan Muqaddimah terbitan Pustaka Kautsar, Ketemu Lagi Salahnya

Wah, ketemu lagi kesalahan terjemahan Muqaddimah terbitan Pustaka Kautsar. Di halaman 310, kata اهليلج diterjemahkan dengan "elips." Di situ dijelaskan, ada 30.000 اهليلج yang diterima Baitulah Mal pada masa pemerintahan Al-Makmun. Nah, sangat lucu kalau اهليلج diterjemahkan jadi "elips," sebuah istilah matematika.

Hati-hati dengan Buku-buku Terjemahan Penerbit Al-Kautsar - Secuil Kasus dari Terjemahan Muqaddimah Ibnu Khaldun

Saya barusan kesel sendirian di depan komputer. Pasalnya, saya terkaget-kaget membaca terjemahan kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun yang diterbitkan penerbit Pustaka Al-Kautsar. Saya sudah menemukan banyak kesalahan dalam terjemahan tim Pustaka Al-Kaustar ini sebelumnya, tapi kali ini saya terpaksa harus menulis di sini biar Anda berhati-hati membaca buku-buku terjemahan, apalagi atas kitab-kitab klasik yang bahasanya rumit minta ampun seperti Muqaddimah.

Myanmar: Bagaimana Nasib Muslim Rohingya?

Jika kita pikir, apa ya pentingnya kita membela Myanmar? Melalui emailnya barusan, pak Rifai mengingatkan saya tentang kasus Muslimin Rohingya, suku minoritas muslim di sana. Betapa sengsara hidup mereka, tergencet dalam lingkungan bangsa minoritas yang hampir tanpa pembela, termasuk dari Indonesia. #More 

Bandingkan dengan pembelaan dunia terhadap Palestina, maka nasib kaum Rohingya makin tak jelas. Pambelaan muslimin dan Pemerintah Indonesia terhadap Palestina sungguh besar, tapi terhadap Rohingya, mana? Padahal, letak Rohingya tak jauhd dari Indonesia, terutama bila dilihat dari Sabang, dekat sekali. 

---------- Forwarded message ----------
From: Ahmad Rifai <m_a_rifai@yahoo.com>
Date: 25 April 2012 11:46
Subject: Fw: MYANMAR: What next for the Rohingyas?

Pernah dengar Rohngya? Mereka adalah Muslimin yang merupakan suku minoritas di Myanmar (Birma). Nasib mereka sangat tragis. Pemerintah diktator militer Myanmar  membuat Undang-undang yang tidak mengakui mereka sebagai bagian dari bangsa Mynmar. Akibatnya mereka "stateless" di tanah air mereka sendiri. Ratusan ribu terusir ke berbagai negara terutama Bangladesh, sebagai  pengungsi . Sebagian mereka mencoba masuk ke Thailand sebagai manusia perahu, dan diusir kembali ke laut. Ada juga yang masuk ke Malaysia dimana mereka diperlakukan baik.  Beberapa perahu  terdampar di Aceh dan mereka ditahan sebagai imigran gelap. 


Yang mengherankan  hampir tidak ada negara Islam yang peduli  (kecuali mungkin Malaysia). Berbeda dengan nasib bangsa Palestina yang selalu menjadi berita dan memperoleh solidaritas Muslimin sedunia.
Sudah waktunya kita ikut memperhatikan saudara Muslim Ronghya ini.
 
Wassalam

Arakan Rohingya National Organisation (ARNO)

MYANMAR: What next for the Rohingyas?

BANGKOK, 29 March 2012 (IRIN) - As Myanmar gears up for a by-election on 1 April, experts and community leaders are divided over what the ongoing reforms may hold for the Rohingya people, a stateless Muslim ethnic group living in the country’s Northern Rakhine State.

Candidate and Nobel Peace Prize Laureate Aung San Suu Kyi has highlighted ethnic conflicts as the country’s most urgent problem. In January the government signed a ceasefire with ethnic Karen rebels in southern Burma to halt one of the world’s longest running civil wars.

But to the frustration of Nurul Islam, president of the London-based Arakan Rohingya National Organization, “There is no change of attitude of the new civilian government of U Thein Sein towards Rohingya people; there is no sign of change in the human rights situation of Rohingya people. Persecution against them is actually greater than before.”

Statelessness

The Rohingya are not legally recognized in Myanmar and struggle with a lack of access to healthcare, food and education.

There are some 800,000 stateless Muslims, mostly Rohingyas, who form 90 percent of the population of northern Rakhine State, which borders Bangladesh and includes the townships of Maungdaw, Buthidaung and Rathedaung.

Known as Arakan State in British colonial times, in 1989 the ruling military junta changed its name to Rakhine State to reflect the dominant ethnic group, the Rakhine Buddhists. Communal violence between Muslims and Buddhists has led to periodic large-scale riots, forcing hundreds of thousands of Rohingyas to flee to Bangladesh.

The heavily populated (295 persons per square kilometre compared to 80 persons nationwide), primarily rural and disaster-prone zone suffers from a consistently high rate of global acute malnutrition that exceeds the World Health Organization emergency threshold of 15 percent, according to the European Community Humanitarian Office.

In early 2011, the UN World Food Programme reported 45 percent of surveyed households in Northern Rakhine State as “severely food insecure”, compared to 38 percent in 2009.

Some 200,000 Rohingya have fled west from Myanmar into neighbouring Bangladesh. Almost 30,000 are documented and living in two government camps, assisted by the UN Refugee Agency (UNHCR), but hundreds of thousands more have been living illegally nearby since the Bangladeshi government stopped registering arrivals.

Recognition

Given the unprecedented pace of change in Myanmar, Eric Paulsen, co-founder of the Malaysia-based human rights and law reform NGO, Lawyers for Liberty, has advised Rohingyas to make the most of the current political opening.

Rohingya activists have long demanded recognition as a national ethnic group with full citizenship by birthright, but Paulsen thinks they should push for naturalization.

“Naturalized citizenship is not on a par with national ethnic group recognition, but at present it remains the most realistic and workable solution to their statelessness,” Paulsen recently wrote.

The Arakan Rohingya National Organization is pursuing full recognition and is unhappy about a perceived lack of support. “Obviously she [Aung San Suu Kyi] is ignoring the Rohingya problem, a key human rights issue in Burma,” said Islam. 

“However, still the Rohingyas have high expectations of her. Rather than avoiding the Rohingya people and their problem, Daw Aung San Suu Kyi should take all measures to formally accommodate Rohingya into the family of the Union of Burma, with full ethnic and citizenship rights, as one of the many ethnic nationalities of the country.”

Tin Soe, the editor of the Bangladesh-based Rohingya newsgroup, Kaladan Press Network, noted that elections do not necessarily equate democracy, without which Rohingyas cannot gain legal recognition.

“We Rohingya will fight for our rights in the parliament if democracy comes to Burma,” Soe told IRIN. “Then we will lobby the parliament, hold demonstrations, show them the results of our fact finding. Now you basically have the armed forces still in power - with them you cannot do anything.”

Repatriation fears

Following Myanmar’s transition from military to a nominally civilian government in 2010, many Rohingya refugees in Bangladesh were briefly hopeful, but soon disappointed.

“After the 2010 election the Rohingya situation is going from worse to worse,” said Soe. Rohingyas were given voting rights in the 2010 elections and promised citizenship if they voted for the military regime’s representatives, he added.


Photo: Photo courtesy of The Arakan Project
Life on the run for Rohingyas
“Citizenship is still not restored,” said Islam. “Killing, rape, harassment, torture and atrocious crimes of border security forces and armed forces have increased. The humiliating restrictions on their freedom of movement, education, marriage, trade and business still remain imposed.”

The Bangladeshi government has sought support for repatriating Rohingya refugees to Myanmar and according to Bangladeshi media, representatives of the Burmese government have said the country is ready to “take” them back.

“The refugees are against repatriation because conditions in Northern Rakhine State have not improved at all, so the announcement has created a new panic in the [Bangladeshi] camps,” said Chris Lewa, who monitors the Rohingya situation for the Arakan Project, an NGO advocating Rohingya issues in Myanmar.

“They don't know what will happen,” Lewa said. “The fear is there that harassment in the camps [to force repatriation] may happen again soon.”

ms/pt/he




Posted via email from ahmadie thaha

25/04/12

Mana Lebih Penting, Undang-Undang Kesetaraan Gender atau Undang-Undang Waris?

Mana lebih penting, Undang-Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) atau Undang-Undang Waris? Saat ini di Komisi VIII DPR sedang diperjuangkan RUU Gender, terutama oleh anggota DPR aktivis perempuan atau yang didukung oleh para aktivis perempuan. Tadi malam rekan-rekan pimpinan PUI membahas soal ini, dengan kesimpulan, RUU Gender tak ada gunanya. Yang lebih penting justeru RUU Hukum Waris. Kenapa?

Versi Ambisius Dreamweaver CS6

Hampir kelewat. Dua hari lalu, Adobe mengeluarkan Dreamweaver CS6
(DW), yang konon dianggap sebagai versi paling ambisius ketimbang
versi-versi DW sebelumnya. Dengan DW CS6, kita bisa membuat
aplikasi-aplikasi untuk berbagai perangkat sekaligus, mulai dari PC,
tablet hingga hp. DW versi baru ini telah diintegrasikan dengan
PhoneGap dan Adobe Creative Cloud.

20/04/12

Perlunya Dibuat UU Hukum Waris

Kemarin hp berdering. Sudah lama Bu Beryl Causari tidak kontak, kali
ini pasti penting, pikir saya. Seperti biasa, dia nyerocos tentang
bejatnya pengadilan, sogok sana sini, dan seterusnya. Bu Beryl, rekan
saya sejak di majalah Panji Masyarakat, ini memang sedang berperkara
di Pengadilan Agama.

13/04/12

Sesat dan Menyesatkan - Said Aqil Siroj

Jumat,
13 April 2012

Sesat dan Menyesatkan

Oleh Said Aqil Siroj

Ada celotehan yang muncul: mengapa perbedaan—khususnya di ranah internal agama—saat ini terlihat semakin ganas. Mudah bersitegang, tidak pernah tuntas, ujungnya saling menyalahkan. Jangan murka dulu. Keluh kesah itu layak ditanggapi secara bijak. Seeing is believing, fakta yang bicara.

Apanya yang fakta? Kepenasaran kembali meluncur. Bukankah beda pendapat dalam segala hal sah-sah saja?

Dunia ini diciptakan sudah bermacam rupa. Mustahil untuk bisa dipersatukan. Tuhan menciptakan manusia dan seisi alam ini beragam supaya manusia saling memahami dan mengenali satu sama lain (lita’arafu). Penyeragaman terjadi karena ulah manusia yang didasari unsur luaran, semisal kepentingan politik.

Menyejarah

Sulit dielak, fakta keragaman dalam pemahaman internal keagamaan sering kali mencuat. Sungguh, fakta tersebut sudah terjadi jauh-jauh silam.

Dalam sejarah Islam, perbedaan pemikiran bukan sesuatu yang ”najis”. Vonis penajisan hanya ”dibakukan” dalam kelompok yang meyakini kebenaran pendapatnya, lalu menvonis pihak lain sebagai sesat. Baku hantam pun kerap mewarnai perjalanan dalam pencarian kebenaran.

Sejarah juga mencatat, hiruk-pikuk polemik dan kontroversi telah mewarnai pemikiran umat Islam sedari dulu. Sengitnya perdebatan antara Muktazilah, Murjiah, Rafidhah, dan Ahlussunnah, misalnya, telah direkam rinci oleh Abdul Qohir ibn Thahir ibn Muhammad al-Baghdadi dalam kitab al-Farqu bain al-Firaq. Dalam kitab tersebut terpapar dengan jelas kemajemukan pemahaman keagamaan.

Masyhur diketahui, dulu ada sekte khawarij yang mengaku pembela Islam yang paling orisinal. Mereka ini berslogan ’la hukma illa Allah’, tidak ada hukum kecuali yang datang dari Allah. Mereka hendak memancangkan kedaulatan hukum Allah.

Saking militannya untuk membela Islam, mereka jadi kalap dan tega-teganya mengafirkan kubu Ali bin Abu Thalib dan kubu Muawiyah bin Abu Sufyan yang terlibat dalam Perang Shiffin. Dalihnya, kedua kubu tersebut telah keluar dari Islam karena menempuh ”tahkim” (arbitrase) demi mengakhiri perang saudara di antara mereka.

Bagi khawarij, model arbitrase dianggap identik dengan berhukum berdasar aturan manusia, bukan aturan Allah. Karena itu, hukum yang pantas adalah vonis kekufuran dan hukum mati. Tak ayal, pada Ahad pagi, 17 Ramadhan 40 H, Ali bin Abi Thalib dibunuh di Kuffah. Pembunuhnya adalah Abdurrahman Ibnu Muljam. Sebenarnya yang akan dibunuh ada dua orang lagi, yakni Gubernur Syam (Suriah) Muawiyah bin Abu Sofyan dan Gubernur Mesir Amr bin Ash. Kedua pemimpin Islam ini akan dibunuh masing-masing oleh Abdul Mubarok dan Bakr Attamimi.

Saat ini pun muncul jemaah-jemaah Islam yang dengan ”pede”-nya tidak henti memojokkan Muslim lain sebagai ahli bidah, bahkan musyrik. Presiden SBY dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini pun sudah sering ditunjuk-tunjuk sebagai penguasa dan negeri thoghut karena tidak mau menerapkan hukum syariah. Tuduhan-tuduhan terhadap ulama di luar kelompoknya juga kerap meluncur seperti tuduhan ulama sesat (su’) hanya karena berbeda cara pengambilan dasar pemikiran (istinbath al-hukm). Ada pula doktrin dari suatu jemaah tertentu yang melarang menikahi seseorang yang jarang atau tidak pernah menjalankan shalat berjemaah. Kumpul-kumpul dengan kelompok yang dicap ahli bidah juga dilarang. Ukuran ’jidat hitam” atau beda cara berbusana pun bisa menjadi arena pertikaian.

Sebenarnya, jauh sebelumnya, di negeri kita muncul beberapa kelompok Islam yang kehadirannya menghebohkan sehingga dilarang. Contoh yang terkenal adalah Islam Jamaah, DI/TII, Baha’i, Inkarus Sunnah, Darul Arqam, gerakan Usroh, aliran-aliran tasawuf berpaham wahdatul wujud, tarekat Mufarridiyah, juga gerakan Bantaqiyah (Aceh). Termasuk di dalamnya Ahmadiyah dan Syiah.

Sederet fakta di atas kiranya bisa jadi gambaran betapa sikap saling sesat-menyesatkan terus bergulir selaju derap perkembangan zaman. Porosnya adalah sikap yang mengklaim terhadap kebenaran pendapatnya serta merasa diri sebagai yang paling benar dan selamat (firqah al-najy).

Di balik penyesatan

Kelompok yang divonis sesat atau sempalan selalu dipandang sebagai kelompok yang memisahkan diri dari ortodoksi yang berlaku. Di sini menebal keyakinan bahwa yang sesat adalah sesat; ada fatwanya atau tidak. Dulu, kita ingat saat panas-panasnya ribut antara kalangan Islam modernis dan kalangan tradisionalis, selalu muncul sikap saling tuding sesat-menyesatkan. Dari sudut pandangan ulama tradisional, kaum modernis adalah sesat, sedangkan kaum modernis justru menuduh lawannya menyimpang dari jalan yang lurus.

Kelompok yang dituduh sesat tentu saja juga menganggap dirinya lebih benar daripada lawannya. Biasanya mereka justru merasa lebih yakin akan kebenaran paham atau pendirian mereka. Bahkan, sering kali mereka cenderung eksklusif dan kritis terhadap para ulama yang mapan.

Sepanjang sejarah Islam telah terjadi berbagai pergeseran dalam paham dominan, yang tidak lepas dari situasi politik. Dalam banyak hal, ortodoksi didukung oleh penguasa, sedangkan paham yang tak disetujui dicap sesat. Persoalan ortodoksi atau otoritas keagamaan terlihat sebagai sesuatu yang bisa berubah menurut zaman dan tempat. Ada kadar kontekstual.

Paham Asy’ariyah pada masa Abbasiyah pernah dianggap sesat saat ulama Mu’tazililah yang waktu itu didukung penguasa merupakan golongan yang dominan. Bahwa akhirnya paham Asy’ari-lah yang menang juga tidak lepas dari faktor politik.

Contoh lain di Iran. Syiah berhasil menggantikan Ahlussunnah sebagai paham dominan baru lima abad belakangan. Seperti diketahui, Syiah Itsna ’asyara kini merupakan ortodoksi di Iran. Sampai abad ke-10 H (abad ke-16 M), mayoritas penduduk Iran masih menganut mazhab Syafi’i. Paham ini baru dominan setelah dinasti Safawiyah memproklamasikan Syiah sebagai mazhab resmi negara dan mendatangkan ulama Syi’ah dari Irak Selatan.

Komunikasi

Dalam agama selalu ada yang sifatnya dogma (ma’lumun min al-diny bi al-dharurah). Ini jangan diulik-ulik, sebaliknya harus dihampiri dengan iman. Makanya, ketika muncul aliran-aliran ”aneh” seperti Lia Eden atau Al-Qiyadah yang mengaku-aku ”nabi” dengan menafikan ajaran yang sifatnya ritual, seperti tak wajib shalat lima waktu, sontak disikapi secara tandas. Aliran-aliran tersebut dihukum melenceng dari ajaran Islam yang baku.

Kata ”sesat” sendiri di dalam Al Quran berasal dari akar kata dhalalah, yang dengan segala bentuk derivasinya disebutkan 193 kali. Bermacam-macam sifat dan perilaku manusia oleh Al Quran dinyatakan sebagai orang-orang yang sesat. Jangan lupa, ”penyesatan” juga dibidikkan kepada orang-orang zalim serta orang yang suka hidup mewah, berlebihan, dan korupsi.

Secara teoretis kita bisa meramalkan, semakin dekat ortodoksi kepada kemapanan politik dan ekonomi, semakin kuat kecenderungan radikalisme gerakan kelompok yang diinisiasi sesat. Nah, disinilah perlunya dialog dan komunikasi secara terus-menerus, tidak hanya bereaksi dengan melarang-larang. Terputusnya komunikasi akan mengandung bahaya. Para tokoh agama perlu kembali memberikan perhatian lebih kepada umat dengan memberikan pemahaman keagamaan yang lebih mendalam agar masyarakat merasakan keteduhan dalam beragama serta meminimalkan ketegangan yang merusak harmoni keindonesiaan.

Said Aqil Siroj Ketua Umum PBNU

Posted via email from ahmadie thaha

09/04/12

E-buk Hakekat Perekonomian Islam

Makasih Mas Zaim Saidi yang telah membagi  gratis e-buk tipisnya di http://jawaradinar.com/wp-content/uploads/2012/04/Hakekat-Perekonomian-dalam-Islam.pdf. Ia mengurai secara ringkas lima pilar muamalat, seakan suara aneh di tengah konsep-konsep ekonomi modern.#more 

Kelima pilar muamalat tersebut adalah:

  1. Suq (Pasar Terbuka)
  2. Mekanisme Perdagangan Terbuka (Kafilah atau Karavan Dagang)
  3. Kontrak-Kontrak Kemitraan dan Pembiayaan, khususnya Syirkat dan Qirad (Mudharabah).
  4. Paguyuban-Paguyuban Produksi Mandiri (Sinf atau Gilda)
  5. Mata Uang Halal, yakni Dinar dan Dirham, serta Fulus
Kelima pilar di atas tidak berdiri sendiri-sendiri tetapi saling terkait membangun suatu tatanan kehidupan yang akan menghasilkan pemerataan kemakmuran. Dengan kata lain, muamalat, yang bertolak belakang dengan kapitalisme atau sistem riba yang menghasilkan pemusataan kemakmuran pada segelintir orang ini, tidak akan dapat disandingkan bersama-sama. Bila kita ingin menegakkan muamalat maka kita harus meninggalkan kapitalisme. Karena itu, upaya islamisasi ekonomi, termasuk islamisasi perbankan dan industri finansial lainya, bukan saja merupakan perbuatan sia-sia, tetapi juga justru menutup kemungkinan penerapan muamalat.

Dinar dan Dirham telah beredar dan bersirkulasi, meski masih agak terbatas, selama 10 tahun terakhir ini. Sirkulasi utamanya melalui Festival Hari Pasaran (FHP) sebagai rintisan kembalinya pasar (suq). Untukmemperluas sirkulasi, dan memudahkan masyarakat berbelanja dengan Dinar dan Dirham, maka Suq ini menjadi penting dan harus diprioritaskan. Diharapkan umat Islam mendukung wakaf tersebut.

Posted via email from ahmadie thaha

Kyai Syukri Sudah Sadarkan Diri

Alhamdulillah, berkat doa semua, Pak Kyai Syukri dikabarkan sudah sadarkan diri, dan kini dirawat di RS Sudono Madiun utk pemulihan kesehatan yang tentu membutuhkan waktu. Beliau terserang gangguan penyakit jantung Ahad lalu, kemudian mengalami stroke dan tak sadarkan diri. Sekali lagi kami mohon doa yang tulus dari rekan-rekan semua bagi kesembuhan beliau. Al-Faaaatihah.

Posted via email from ahmadie thaha

NursiStudies - JNU Conference Bulletin Online

Pak Rifai: Berikut ini  proceeding seminar tentang Badiuzzaman Nursi yang diselenggarakan di India baru-baru ini. Saya terkesan bukan saja mengenai perhatian kalangan intelektual India atas pemikiran2 Said Nursi, tapi juga bagaimana kegiatan itu diorganisir. Saya berharap satu kali seminar serupa bisa diselenggarakan oleh perguruan tinggi Islam di Indoensia. You can download the Bulletin for the conference which was held in JNU, in New Delhi: http://www.iikv.org/images/tools/bulten/jnu.pdf 

Posted via email from ahmadie thaha

08/04/12

Global Politician - Saudi Arabia, Wahhabism and the Spread of Sunni Theofascism

Barusan sy dapat kiriman email lagi dapi Pak Rifai (Ahmad Rifai), Wakil Ketua Majelis Syura PUI: "Mau tahu mengapa Said Agil Siraj /NU begitu kwatirkan Wahabisme, yang sering dikatakannya harus dikutuk sebagaimana terorisme? Tulisan di situs ini bisa bantu menjelaskan. Saya tidak tahu, apakah sang kiyai merujuk situs yang susunan 'orang kafir' ini: http://www.globalpolitician.com/23661-saudi. Isu bahaya Wahabi, salafi, radikalisme, terorisme akan tetap sexy, karena bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan objekan. Wallahu a'lam."

Posted via email from ahmadie thaha

Salah Makan, Siapa Suruh?

Sy sdg batuk2 nih, kayaknya ada yg salah dengan makanan dlm bbrp hari ini, dan terpaksa sy santap karena memang sdh lapar. Sy telusuri, siapa yg menyiapkan makanan sy? Rupanya ada istri, anak2 perempuan, juga menantu. Terus muncul pikiran buruk sy: "Jangan2 banyak suami atau anggota keluarganya mati karena salah istri menyiapkan makanan buat suami2 mereka." Tp sy juga mikir, "Lha kok dimakan juga? Kok gk ngasih tahu ke mereka ttg makanan yg sehat buat keluarga," dst. Jd, salah sy juga. Ampuni kami ya Allah. Wallahu a'lam.

Posted via email from ahmadie thaha

Pak Rifai tentang Khazanah Pemikiran Syiah

Berikut tanggapan Wakil Ketua Majelis Syura PUI H. Ahmad Rifai terhadap posting saya sebelum ini mengenai luar biasa kayanya khazanah pemikiran Syiah. Jika mengambil pemikiran mereka terlalu beresiko, mungkin memang lebih aman kalau "mewacanakan agar kita mulai menoleh pada karya keislaman Turki dan ulama India/Pakistan." 
  1. Budaya kehidupan intelektual Syiah memang tidak bisa dibantah, bukan hanya dari segi jumlah karya tetapi juga dari sisi bobot. Hal itu konon buah dari sikap mereka terhadap filsafat sebagai sistim dan metode berfikir. Sementara otoritas sunni lama dan masih ditandai dengan sikap 'memusuhi filasafat' (dampak dari 'Tahafatul Falasifah ' Alghazali ?) . Otoritas ulama Syiah bersikap sebaliknya, bahkan mereka tidak segan untuk mewacanakan pandangan2 non Islam (Persia, Urdu, Greko Yunani). Akibatnya ya itu, selama berabad, budaya intelektual sunni tertidur lelap berselimutkan taklid dan khurafat (obscurantisme). Syukurlah masa kegelapan kehidupan intelektual Sunni itu mulai berakhir, ditandai dengan munculnya pemikir2 dengan karya2 pencerahan seperti Tafsir Al Manar (Abduh, Rasyid Ridho dsb) yang disusul oleh karya2 lainnya yang muncul di berbagai negara seiring dengan lepasnya penjajahan Barat. Dalam hubungan ini saya pernah mewacanakan agar kita mulai menoleh pada karya keislaman Turki dan ulama India/Pakistan. Seperti diketahui pemikiran ulama yang berasal darinegara Arab selama ini lebih mendominasi pemahaman agama kita. (Kita sering lupa Imam Bukhari bukan orang Arab). Turki dan India selama berabad memimpin peradaban islam, yang pasti melahirkan karya2 unggul.
  2. Sewaktu saya mengunjungi perpustakaan masjid nabawi madinah, saya melihat kekayaan koleksi buku2 klasik dari ulama berbagai madzhab, phenomena dari zaman keemasan kehidupan intelektual Muslim. Saya tidak tahu apa disana ada juga hasil karya ulama Syiah, kecuali mungkin 1 kitab Tafsir yang banyak dibaca di pesantren2 kita yang konon ditulis ulama Syiah (Zamaksyari?). Tentang banyaknya kitab2 'Sunni' dalam kepustakaan Syiah, tidak perlu heran, karena posisi kaum syiah sebagai 'sempalan' yang harus berposisi 'menyerang' pemikiran mainstream sunni. Hal ini paling tidak terkesan dari nada-nada tulisan dari buku2 syiah di tanah air kita.( contoh, buku debat Syiah-Sunni, terbitan awal Mizan). Meski demikian sudah pasti saya tidak setuju untuk menyebutkan Syiah bukan Islam, karena itu bertentangan dengan realita dan logika publik dunia. Kerajaan Saudi saja tidak berani melarang orang Syiah berhaji.
  3. Selepas subuh tadi di masjid dekat rumah saya bicara2 dengan imam rawatib Ustadz Komarudin, dan Asep seorang angg jamaah, guru SMA negeri. Kita menyinggung betapa rendahnya budaya baca di kalangan ustad2/muallim di kampung. Betapa sempit dan dangkalnya pemahaman keagamaan mereka, padahal mereka adalah 'pekerja terdepan' (front runner) keagamaan ummah. Grassroot . Sebagian mereka tidak lagi membaca kitab (juga Al Quran, apalagi hadist) yang sebagian sempat mereka baca waktu dulu belajar di pesantren. Mereka terjebak pada issue2 kecil khilafiyah yang itu ke itu. Yang lebih parah lagi, mereka sangat tertutup untuk berwacana. Setiap upaya dialog buntu dengan stigma wahabi dan sikap ' tapi ini ajaran guru saya'. Titik. Kemandegan serupa terjadi di kalangan warga PUI. Hampir tidak ada majlis bahtsul masail di kalangan PUI. Tidak ada lagi karya2 tulis sesudah puluhan karya KH AHMAD SANUSI & KH ABDUL HALIM. Oleh karena itu, saya berpikir pentingnya 'distinksi' program HIMA PUI dengan PEMUDA PUI. HIMA harus lebih didorong untuk lebih banyak berwacana daripada aksi-aksi sosial kemasyarakatan. Tentu saja perlu terus dirintis dan didorong upaya2 lain untuk menggerakkan budaya intelektual di kalangan warga PUI. Sayang sampai sejauh ini Dewan Pakar dan Syariah masih sedikit bergerak.
Wallahu a'lam.
Wassalam

Posted via email from ahmadie thaha

07/04/12

Maktabah Syi'ah, Sungguh Karya Luar Biasa

Selama ini kita mengenal Maktabah Syamilah yang konon digagas oleh kalangan Sunni. Rupanya, kalangan Syiah juga telah memiliki Maktabah Syi'ah (al-Maktabah al-Syi'iyyah) yang dapat diakses di Websitenya, http://www.shiaonlinelibrary.com. Saya lihat, sedikitnya terdapat 4.714 kitab yang telah tersedia online. Kitab-kitab itu sebagian besar memang karya para ulama Syiah. Namun, saya juga lihat tidak sedikit kitab karya ulama Sunni dicantumkan di sana. Itu artinya, kalangan Syiah pun mengakui karya-karya mereka sebagai rujukan yang memang tak mungkin diacuhkan begitu saja secara akademis.

Kitab-kitab mereka begitu kaya, seperti halnya kitab-kitab karya ulama Sunni. Kita bisa baca dan download kitab-kitab karya mereka, disamping karya kalangan Sunni yang banyak menjadi rujukan di kalangan ulama kita, seperti kitab Fathul Wahhab karya Zakariya al-Anshari, kitab a-Umm karya Imam Syafii, kitab Tamhid karya Ibn Abdil Barr, dst. Yang mencengangkan, terdapat satu kitab Biharul Anwar karya Allamah al-Majalisi yang jumlah jilidnya mencapai 110 jilid. Luar biasa. Berikut ini beberapa kitab yang sempat saya catat dari Website Maktabah Syiah, termasuk jumlah jilidnya bila ada.

Dengan melihat judul-judul kitab karya mereka serta kandungan pembahasannya, sekali lagi kita bisa buktikan, Syiah itu masih masuk bagian dari Islam. Sangat konyol kalau ada orang mengatakan bahwa Syiah itu bukan bagian dari Islam. Bahkan tak sedikit yang menyebutnya sesat. Naudzubillah. Sesama muslim kita mestinya tak usah saling menyesatkan. Lihatlah karya mereka, sungguh luar biasa. Kita ini masih jauh dari mereka, dan boleh jadi bukan apa-apa ketimbang mereka.

(110 jilid) بحار الأنوار  - العلامة المجلسي
(26 jilid) جامع أحاديث الشيعة - السيد البروجردي
(25 jilid) عمدة القاري -العيني
(24 jilid) التمهيد - ابن عبد البر
(20 jilid) تفسير الميزان - السيد الطباطبائي
(20 jilid) روضة الطالبين - محي ى الدين النووي المجموع
(18 jilid) شرح مسلم- النووي
(13 jilid) فتح الباري -ابن حجر
(12 jilid) المغني - عبد الله بن قدامه
(11 jilid) الغدير- الشيخ الأميني
(11 jilid)  المصنف - عبد الرزاق الصنعاني
(10 jilid) السنن الكبرى- البيهقي
(10 jilid) تحفة الأحوذي - المباركفوري
(8 jilid) كتاب الأم - الإمام الشافعي
(8 jilid) روضة الطالبين - محيى الدين النووي
(4 jilid) مغني المحتاج - محمد بن أحمد الشربيني
(4 jilid) فتح المعين - المليباري الهندي
(4 jilid) إعانة الطالبين - البكري الدمياطي
(9 jilid) نيل الأوطار -الشوكاني
(8 jilid) الكافي - الشيخ الكليني
(6 jilid) فيض القدير شرح الجامع الصغير -المناوي
فتح الوهاب - زكريا الأنصاري
كتاب الخمس  ,التقية - الشيخ الأنصاري
اقتصادنا,  شرح العروة الوثقى - السيد محمد باقر الصدر
كتاب الاجتهاد والتقليد - السيد الخوئي
المتعة النكاح المنقطع -  مرتضى الموسوي الأردبيلي
تعليقة على العروة الوثقى -  السيد علي السيستاني
زواج المتعة - السيد جعفر مرتضى
زواج المتعة في كتب أهل السنة - الدكتور السيد علاء القزويني
واقع التقية عند المذاهب والفرق الإسلامية من غير الشيعة الإمامية -ثامر هاشم حبيب العميدي
الرسالة - الإمام الشافعي
المراجعات -السيد شرف الدين

Posted via email from ahmadie thaha