30/04/15

Batasan Mencintai Orang Yahudi dan Nasrani

Imam Badiuzzaman Said Nursi, dalam kitabnya al-Maktubat di bab "Munadharat" (Diskusi), ditanya ​tentang ayat al-Qur'an yang melarang kita menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wakil atau pemimpin kita:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). (Qs. al-Ma'idah [5]: 51) 

Apa makna ayat ini. Bagaimana saran Said Nursi bagi kita, bolehkah kita menjalin ikatan persahabatan dengan Yahudi dan Nasrani. Jika boleh, bagaimana?

Atas pertanyaan ini, Said Nursi memberi jawaban yang kiranya dapat kita terima sebagai solusi hidup bermasyarakat. Berikut jawaban lengkapnya:

Dalil hendaknya dibuat dengan petunjuk yang qath'i, sebagaimana dalil juga harus dibuat dengan nash yang qath'i. Namun ada sejumlah ruang untuk berbagai penakwilan dan kemungkinan, karena larangan al-Qur'an tidak bersifat umum, tapi mutlak, dan dalil mutlak bisa dibatasi. Zaman adalah penafsir agung. Ketika zaman telah memperlihatkan batasan atas kemutlakan suatu larangan, berarti tidak bisa ditentang. Ini yang pertama.

Selanjutnya, ketika hukum didasarkan pada suatu sumber, berarti sebab hukum inilah yang mengisyaratkan pada tempat diambilnya sumber tersebut. Dengan demikian, larangan menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah karena kapasitas mereka sebagai Yahudi dan Nasrani.

Berikutnya, seseorang tidak dicintai berdasarkan esensi orang tersebut, tapi karena sifat atau perbuatannya. Seperti halnya tidak semua sifat orang muslim bersifat Islami, demikian juga tidak semua sifat dan perbuatan orang kafir bersifat kafir.

Karena itu, mengapa tidak boleh menilai sifat atau perbuatan Yahudi dan Nasrani sebagai sifat atau perbuatan yang bersifat Islami?! Jika Anda mempunyai istri dari Ahli Kitab, Anda pasti mencintainya!

Yang kedua, revolusi agama yang agung terjadi di Era Kebahagiaan, hingga mengubah seluruh akal fikiran menjadi titik agama. Semua orang menyatukan cinta dan permusuhan di titik itu, setelah itu mereka mencintai atau memusuhi. Tidak heran jika tercium aroma kemunafikan di balik cinta terhadap kalangan nonmuslim. 

Namun, revolusi yang terjadi di dunia saat ini bersifat peradaban dan keduniaan yang aneh. Revolusi ini menguasai seluruh akal fikiran. Peradaban menjadi titik kemajuan dan ukuran dunia. Sebagian besar orang pada hakekatnya tidak menjalankan agama mereka seperti ini. Berdasarkan hal tersebut, ikatan persahabatan kita dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani bersumber dari peradaban dan kemajuan mereka, juga untuk menjaga rasa aman yang menjadi asas seluruh kebahagiaan dunia. Ikatan persahabatan seperti ini jelas tidak termasuk dalam larangan al-Qur'an di atas.

0 comments: