15/04/16

Alasan Said Nursi Menolak Hadiah

Berikut kutipan dari jawaban Ustadz Said Nursi terhadap surat yang dikirimkan Khulusi, salah seorang muridnya yang terkenal tentang hadiah yang dikirimkannya, dan ustadz Said Nursi bermaksud menolaknya:

Engkau mengirim satu hadiah kepada saya, dan kau ingin melanggar salah satu prinsip penting saya. Tapi saya tidak mau mengatakan, "Saya tidak menerima hadiahmu seperti halnya hadiah yang diberikan saudara kandung saya, Abdul Majid, dan keponakan saya, Abdurrahman," karena kau lebih dulu dan lebih dekat di hati saya dari keduanya. Jika pun hadiah setiap orang ditolak, hadiahmu ini tidak akan saya tolak, dengan catatan cukup sekali ini saja. Namun perlu saya sampaikan rahasia prinsip saya sehubungan dengan hadiah ini sebagai berikut:


Sa'id "lama" tidak mau berhutang budi pada siapa pun juga. Ia lebih memilih mati ketimbang berhutang budi pada orang lain. Ia tidak pernah mengabaikan prinsip ini meski menghadapi banyak beban berat. Sifat yang diwariskan Sa'id "lama" kepada saudaramu yang malang ini bukanlah sikap zuhud atau karena tidak memerlukan bantuan orang lain yang dibuat-buat dan dipaksakan, tapi semata bersumber pada sejumlah sebab penting dan serius berikut:


Pertama,
orang-orang sesat menuduh para ulama menjadikan ilmu sebagai sarana untuk mengumpulkan harta. Mereka menyampaikan tuduhan ini secara tidak benar dan tidak adil dengan mengatakan, "Mereka menjadikan ilmu dan agama sebagai mata pencaharian." Untuk menunjukkan bahwa tuduhan itu bohong, perlu dilakukan tindakan nyata.

Kedua,
kita diperintahkan untuk mengikuti para nabi dalam menyebarkan dan menyampaikan kebenaran. Orang-orang yang menyebarkan dan menyampaikan kebenaran harus menampakkan sikap tidak memerlukan bantuan orang seraya berulang kali mengatakan seperti yang disebutkan dalam al-Qur'an:

إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ

"Upahku hanyalah dari Allah." (Qs. Hud [11]: 29)
Juga ayat yang tertera dalam surat Yasin:

اتَّبِعُوا مَن لَّا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ

Ikutilah orang yang tidak meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs. Yasin [36]: 21)

Ayat ini memiliki sejumlah makna agung dan bijak seputar permasalahan yang kita bahas ini.


Ketiga
, memberi dan menerima harus dilakukan atas nama Allah, sebagaimana telah dijelaskan dalam "Kalimat Pertama."[1] Namun, pada umumnya, orang yang memberi melalaikan nama-Nya, sehingga di dalam batinnya timbul perasaan bahwa dialah yang punya jasa, atau si penerima yang lalai mempersembahkan syukur dan pujian tulus yang seharusnya hanya dipanjatkan kepada Sang Pemberi nikmat hakiki, namun ia alihkan kepada sebab-sebab lahiriah, sehingga ia pun keliru.

Keempat
, tawakal, qana'ah, dan kesederhanaan (iqtishad), adalah pembendaharaan dan kekayaan yang tak tergantikan oleh apa pun. Saya tidak ingin menutup pembendaharaan yang tak akan pernah lenyap ini dengan menerima harta pemberian orang lain.

Ratusan ribu puji syukur saya panjatkan kepada Sang Pemberi rizki karena Dia tidak mendaruratkan saya masuk dalam jerat kewajiban (berhutang) dan direndahkan sejak kecil. Saya memohon kepada Allah seraya bersandar pada kemuliaan-Nya, semoga Dia tetap mengizinkan saya untuk menghabiskan sisa usia dengan prinsip ini.


Kelima
, berdasarkan berbagai pertanda dan pengalaman, saya memiliki sifat qana'ah sejak bertahun-tahun lamanya. Sifat ini tidak membiarkan saya untuk menerima hadiah-hadiah pemberian orang, khususnya orang-orang kaya dan para pejabat, karena sebagian di antara hadiah-hadiah seperti ini bisa menimbulkan permasalahan material maupun spiritual bagi saya. Bahkan bisa jadi kondisi ini merupakan dorongan Ilahi agar saya tidak memakan hadiah-hadiah seperti itu. Yakni, kadang Allah mengubah hadiah-hadiah tersebut menjadi kondisi yang justru berbahaya bagi saya. Dengan demikian, kondisi ini berlaku sebagai perintah agar saya tidak mengambil harta milik orang lain, sekaligus sebagai larangan untuk menerima pemberian.

Di samping itu, karena butuh menyendiri dari orang banyak, saya tidak dapat menerima kunjungan semua orang setiap saat. Menerima hadiah pemberian orang memaksa saya untuk menjaga perasaan si pemberi, agar ia tidak kecewa, sehingga saya terpaksa harus menemui mereka di saat saya tidak ingin melakukannya. Ini adalah sesuatu yang tidak saya sukai.


Selain itu, saya lebih suka memakan sepotong roti kering, mengenakan baju dengan seratus tambalan, namun bisa menghindarkan saya untuk meminta-minta atau berpura-pura. Saya tidak ingin memakan baklava paling enak dengan membenci orang lain, atau mengenakan pakaian paling mewah namun memaksa saya untuk menjaga perasaan mereka.


Keenam,
alasan utama mengapa saya tidak memerlukan bantuan orang adalah karena Imam Ibnu Hajar,[2] salah seorang imam terpercaya dalam madzhab kami, pernah mengatakan, "Jika Anda bukan orang shalih, haram hukumnya menerima suatu pemberian yang diniatkan untuk orang shalih."

Dikarenakan sifat tamak dan rakus, pada zaman sekarang orang menjual hadiah-hadiah yang sangat kecil dengan harga begitu mahal. Mereka mengira orang seperti saya ini, yang banyak dosa, malang, dan tak berdaya, sebagai orang shalih atau wali, lalu mereka memberi saya sepotong roti sebagai hadiah. Andai saya meyakini, amit-amit, bahwa saya ini orang shalih, itu pertanda sifat bangga diri, sekaligus bukti bahwa saya bukan orang shalih. Dan karena saya merasa yakin bahwa saya bukan orang shalih, maka saya tidak boleh menerima hadiah tersebut. Lagi pula, menerima sedekah dan hadiah sebagai imbalan amalan-amalan yang ditujukan untuk akhirat berarti memakan buah-buah kekal abadi akhirat dalam bentuk yang fana di dunia.

(dari kitab al-Maktubat, Surat Kedua)



[1] Kitab al-Kalimat

[2] Ibnu Hajar (909-974 H.): Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitami as-Sa'di al-Anshari, Syihabuddin, Syaikh al-Islam, Abu Abbas; faqih, berkebangsaan Mesir, lahir di wilayah Abu Haitam, salah satu kawasan barat Mesir, dan ia dinisbatkan ke kawasan ini.

0 comments: